Upperclass Chindo Lifestyle Examined Through Baudrillard’s Theory of Simulacra

Only when I came back home to Jakarta a year after where I reexperienced all the cultural norms, the subtle barometer that a collective holds, and genuinely felt the pressure to be performing do I fully grasp the totality of it. So, this is my best attempt of understanding Baudrillard’s theory through the ‘object’ and lifestyle that I am most exposed to Upperclass Chindo Lifestyle.

Zero Waste Gospel / Doctrine

Taking a Business Ethics class in my college years was a monumental moment to say the least. It opened my eyes on how wicked modern civilization is towards the environment. I felt utter shame and guilt to the point where I couldn’t even look at the water bottle I bought before the class in front of me. As I threw it away, I pledged that it would be my last ever plastic bottle I would ever use in my life. Lol.

Feeling overwhelmed by the news when the world is falling apart as we know it? Same

If you’ve been actively surfing social media and keeping tabs on the latest happenings from these past couple of months, we can both probably agree that 2020 has been an “eventful” year to say the very least. That being said, keeping up with the latest happenings gets super exhausting after a while. In this year alone, we pretty much went from rampant bush fires, the possibility of an all-out war, riots, a global pandemic, even more lies in politics (never a surprise), and even the apparent rise of institutional racism. The world is practically falling apart as we know it, but here’s a short piece on staying sane in the craziest of times.

Pudar Realita dalam Gejolak Kapitalisasi Media Sosial

Media sosial, suatu istilah yang tidak lagi asing di telinga pada era modern ini. Media sosial telah berkembang menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Segala kegiatan manusia sekarang sudah terhubung dan saling terpengaruh dengan dunia maya. Hobi, aktivitas, rutinitas, interaksi, bekerja, transaksi, hingga mencari informasi hampir selalu dapat dilakukan melalui media sosial. Batas realita dan dunia maya masyarakat saat ini telah terbiaskan oleh pesona media sosial sebagai medium penyambung komunikasi antar manusia yang terasa efektif tanpa terlalu perlu mengkhawatirkan kondisi “waktu” dan “jarak”. Mungkin pesan ini coba disampaikan oleh Jose van Dijck pada pengantar bab pertamanya dalam The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media (2013). Judul bagian pertama dari buku ini adalah “Engineering Sociality in a Culture of Connectivity”, sebagai inisiasi pembahasan mengenai kultural historis dari kemunculan media sosial.

Ilmu Pengetahuan Sosial: Di Balik Layar

Baru-baru ini Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengeluarkan pernyataan bahwa universitas perlu lebih banyak mencetak lulusan bidang sains. Pandangan yang sama juga dikemukakan tahun lalu oleh mantan Menristekdikti, Mohamad Nasir.
Basis argumen dari perspektif ini adalah bahwa lulusan ilmu alam jumlahnya kalah banyak dari lulusan ilmu sosial, dan kondisi ini tidak sesuai dengan ‘kebutuhan industri’. Pernyataan ini membuat saya geleng-geleng kepala, dan saya yakin saya tidak sendirian.

My Thoughts on the “Spiritual Influencers” Dominating Social Media

I’ve personally never heard of the term “spiritual influencers” up until a few months ago. A number of my friends online tend to share so many different content about well-being and manifesting that I wasn’t so sure what it all really meant